Jumat, 07 Februari 2025

Apakah Selama Ini Aku Sombong?

Apakah Selama Ini Aku Sombong?

Katanya, seseorang diberi cobaan karena ada maksud di balik itu.

  1. Agar membentuk mental yang lebih kuat.
  2. Agar jadi lebih bijak.
  3. Agar instrospeksi diri.

Dan mungkin ada maksud-maksud lainnya.

Walau kurang nyaman, tapi introspeksi diri ini memang nyata dan perlu. Ketika aku diberi satu cobaan yang sampai saat ini masih aku pertanyakan mengapa, aku awalnya tidak mau introspeksi diri.

Aku memilih untuk ‘menyalahkan’ Tuhan. Mengapa Dia memberiku ‘kesialan’, padahal Dia dengan murah hatinya mengabulkan doa orang lain dan membuat mereka bahagia.

Namun seiring berjalannya waktu, aku bisa dengan sendirinya introspeksi diri tanpa aku menyadarinya.

Ketika sedang sedih, kamu pasti butuh pegangan. Dan salah satu peganganmu sudah pasti berdoa. Nah, ketika aku berdoa minta pegangan Allah, saat inilah aku otomatis instrospeksi diri.

Ketika sedang sedih, otomatis kita jadi lebih sering berdoa. Inilah pokoknya. Sering berdoa. Sesuatu yang kamu, dan aku, tidak sering dilakukan ketika sedang tidak ada masalah. Bahkan ketika sedang bahagia.

Aku jadi menyadari kalau aku kurang berdoa.


Aku adalah manusia yang sombong

Kata ustaz-ustaz yang ceramahnya aku dengar di YouTube, manusia yang tidak berdoa itu sombong. Merasa tidak butuh Tuhan, dan Tuhan tidak suka orang yang sombong. Manusia jadi lebih sering berdoa ketika sedang dilanda musibah. Kemana mereka ketika sedang senang? Mereka seakan lupa Tuhan.

Padahal Allah suka jika hambaNya berdoa. Meminta. Sebanyak-banyaknya. Tak peduli seberapa berdosa hamba tersebut. Pokoknya doa saja.

Aku sempat merasa seperti ini. Bahkan ketika aku punya keinginan besar, aku nggak berani meminta. Aku nggak mau sering-sering berdoa. Kenapa? Karena aku merasa punya banyak dosa. Nggak enak minta-minta.

Padahal, Allah senang jika hambaNya meminta-minta…

Dan juga, aku merasa kalau Allah sudah pasti tahu apa yang aku inginkan. Aku nggak perlu mengucapkannya dengan lisan dan berdoa.

Tapi aku sombong. Dan itu yang membuatku (tetap) jauh dari Allah.


Terapi doa untuk manusia sombong


Yang aku sadari setelah lebih sering berdoa, aku jadi lebih dekat dengan Allah. Aku tidak malu lagi meminta. Aku tidak punya lagi pikiran bahwa manusia yang banyak dosa tidak berhak berdoa. Yang ada, karena aku jadi lebih dekat dengan Allah, kesempatan untuk berdosa (mudah-mudahan) berkurang.

Gimana, sih, rasanya bergantung kepada sesuatu? Tergantung. Bisa positif, bisa tidak. Namun jika bergantung pada Tuhan, aku bisa bilang kalau ini selalu positif.

Ambil analogi seorang anak yang suka meminta pada bapaknya. Pengen permen. Pengen bakso. Pengen dibelikan buku. Pengen diajak jalan-jalan.

Dan si bapak mengabulkan. Langsung dikabulkan maupun tidak langsung. Serupa maupun dalam bentuk lain yang lebih baik.

Seperti itulah kamu meminta pada Tuhan. Minta untuk hal-hal terkecil. Hal-hal remeh, yang saking remehnya, kamu tidak begitu peduli apakah langsung dikabulkan atau tidak. Apakah dalam rupa yang exactly kamu minta atau tidak.

Dan ketika hal-hal remeh itu terjadi, kamu akan senang bukan main...

Tanpa aku sadari, kebiasaan berdoa ini menjadi terapi bagiku. Aku membiasakan bersyukur atas nikmat Allah mulai dari hal-hal kecil. Ini jadi satu cara menghilangkan kesombongan dalam diri.

Aku yang sebelumnya kecewa sama Allah, sekarang perlahan berbaik sangka lagi. Aku yang sebelumnya jauh dari Allah, sekarang makin terasa lebih dekat. Saking dekatnya, aku jadi semakin sering ‘berdialog’ sama Allah. Meminta, berdoa, bahkan untuk hal-hal remeh.

Karena sering berdialog sama Allah itulah, aku merasa semakin dekat denganNya. Pasti pernah, kan, sering ngobrol sama seseorang, lama-lama merasa akrab dan nyaman? Seperti itu.

Dan ketika perasaan seperti itu hadir, itu bisa menghapus perasaan negatif dan diganti dengan lebih banyak cinta. Inilah penghancur kesombongan.

Aku mungkin masih mempertanyakan mengapa Allah menimpakan cobaan itu padaku, tapi fokusku bukan lagi melulu ke situ. Fokusku adalah memperbaiki diri, dan aku senang, setidaknya aku sudah tahu kalau aku dulu sombong.

Dan tidak baik untuk jadi manusia sombong, apalagi sombong pada Tuhan. Sungguh aku menyesal.



Bagaimana dengan kamu? Ada baiknya kamu mulai bertanya pada dirimu sendiri: “Aku sombong nggak?” atau “Apakah aku sombong?”

Kalau iya, kenapa kamu sombong?


Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Selasa, 12 Maret 2024

Cookie Jar untuk Mengatasi Depresi

Cookie jar.

Beberapa waktu lalu, lupa karena apa, dan tentang topik apa, dua kata ini terbaca oleh mataku. Dan ketika aku membacanya, aku tiba-tiba mengaitkan ini dengan kejadian bertahun-tahun lalu.

Aku sempat menulis tentang kejadian itu di sini. Singkatnya, waktu itu aku kena depresi ringan. Aku cuma menyebutkan kalau penanganan yang kulakukan hanya mengurangi main ponsel dan media sosial. Yang sebenarnya, aku melakukan lebih dari itu.

Aku tetap salat tentu saja (walau suka nangis-nangis sendiri selama salat) dan itu menjaga aku tetap waras dan terjaga dari hal yang tidak-tidak. Dan hal lain yang kulakukan, dan akan menjadi topik kali ini adalah, suatu metode yang bisa dinamai 'cookie jar'.

Jujur saja waktu itu aku tidak memberi nama apa pun untuk metode ini. Aku cuma pernah dengar bahwa mencari hal positif atau merasa bersyukur dalam hidup bisa membawa perdamaian, jadi aku mau coba melakukan.

Kebetulan aku punya toples kaca bekas saus bolognese (lebih besar sedikit dari toples selai) yang belum aku buang. Entah kenapa, itu toples masih aku simpan walau isinya sudah habis. Jadi aku cuci dan simpan, barangkali ada gunanya (eh ada dong ternyata!).

Jadi misiku adalah, di akhir hari, aku menulis sepuluh hal yang berlalu dengan baik atau hal yang aku syukuri hari itu. Dengan kondisi depresi, tentu saja itu cukup sulit. Tapi aku bertekad mencoba, dan akhirnya aku bisa menulis daftar itu meski dengan hal-hal remeh. Contohnya, hari ini aku minum kopi, enak deh. Atau, tadi aku mengantar saudara untuk kontrol ke klinik.

Aku nulis itu di kertas binder berwarna-warni yang ada garis-garisnya itu. 

Setelah cukup sepuluh daftar, aku baca ulang sambil bersyukur.

Kemudian aku potong kertas itu per daftar, jadi aku punya sepuluh potongan. 

Potongan-potongan itu lalu aku lipat-lipat sampai kecil, terus dimasukkan ke toples. Setelah itu tutup. Nggak lupa tutupnya diberi pita bekas buket bunga wisudaku sebelumnya hahaha. Pokoknya diusahakan proses itu semenarik dan semudah mungkin agar bisa konsisten dilakukan.

Nggak butuh lama, perasaanku membaik. Tidak langsung sembuh tentu saja, tapi bertahap. Aku jadi merasa makin optimis. Sebelumnya aku memang optimis aku nggak akan terjebak kondisi ini dalam waktu lama, tapi ketika ada bukti nyata begini, aku jadi lebih optimis lagi.

Nah, seperti yang aku ceritakan di awal, beberapa waktu yang lalu aku membaca kata-kata 'cookie jar' ini. Aku tiba-tiba teringat sama metodeku yang satu itu, dan sekarang memutuskan untuk memberi nama metode itu 'cookie jar'. Kenapa? Karena potongan-potongan kertas yang aku masukkan ke toples itu merepresentasikan biskuit. Sesuatu yang manis dan menyenangkan, dan bisa menyembuhkan suasana hati yang buruk.

Semoga tips ini berguna dan kalian sehat selalu, ya!

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Sabtu, 03 Desember 2022

Ganti Plat Motor Lima Tahunan Beda Kota

Sebagai seorang perantau, aku awalnya bertanya-tanya, bagaimanakah nasib motorku yang berplat kota asal ketika sudah saatnya diganti? Apa aku harus pulang membawa motor dan mengurusnya di kota asal? Atau malah mengurus mutasi motor dari kota asal ke kota perantauan dan mengganti kode lokasinya? Kalau dipikir-pikir, itu sepertinya rumit dan memakan biaya besar.

Lalu aku cari informasi di internet, dan dapatlah hasilnya. Untuk mengurus ganti plat kendaraan lima tahunan beda kota itu bisa pake banget. Tak perlu pulang kampung, bawa motornya, dan mengurus di sana. Tidak perlu pula mengurus mutasi kendaraan. Yang dilakukan adalah meminta cek fisik kendaraan di samsat terdekat dengan lokasi saat ini. Setelah itu, tinggal mengirimkan berkas ke kota asal dan minta keluarga di sana untuk mengurus. Dengan begitu kode lokasi kendaraan akan tetap sama dan memangkas waktu dan biaya.

Nah, aku kemarin mengurus di Samsat Jakarta Utara dan Pusat. Ketika masuk areanya, tinggal ikuti saja petunjuk arah. Kalau masih kurang jelas, bisa tanya sama mas-mas penjaga palang parkir di mana tempat cek fisiknya. Tahap-tahap pengurusan sendiri sebagai berikut:

  1. Parkir motor di dekat tempat cek fisik. Tempatnya di depan masjid.
  2. Ke "Loket Pendaftaran" untuk ambil formulir cek fisik. Bilang saja mau cek fisik bantuan.
    Pastikan bawa pulpen sendiri untuk isi formulir biar hemat. Kalau tidak, bisa beli di tempat foto kopi seharga lima ribu rupiah.
  3. Setelah isi formulir, pindahkan motor ke tempat cek fisik langsung. Lalu antri dan tunggu petugas menghampiri. Serahkan formulir ke petugas cek fisik.
  4. Setelah selesai, bawa motor ke tempat parkir lagi.
  5. Bawa formulir ke loket pendaftaran yang pertama. Serahkan, tunggu nama dipanggil.
  6. Tak begitu lama, nama dipanggil. Oh ya, aku waktu itu datang ketika nggak rame-rame banget. Lumayan, tapi cenderung tidak antri. Sudah selesai tahapnya di sini. Formulirnya tinggal kirim ke daerah asal.
Oh ya, proses ketika bantuan cek fisik tak perlu fotokopi apa-apa, hanya perlu bawa STNK asli. Juga tidak perlu bayar apa-apa (paling bayar parkir doang). Proses di atas makan waktu kurang lebih setengah jam.

Lalu apa saja yang perlu dikirim ke kota asal?
Kertas hasil cek fisik, STNK asli, KTP asli, BPKB asli, dan surat kuasa.

Untuk Samsat Jakarta Utara dan Pusat, per saat ini jam bukanya sebagai berikut:

Senin-Kamis: 08.00-15.00 (istirahat 12.00-13.00)
Jumat: 08.00-15.00 (istirahat 11.00-13.00)
Sabtu: 08.00-12.00
Ahad libur


Semoga artikel ini bermanfaat dan urusan para pembaca sekalian dilancarkan, ya.

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Sabtu, 26 November 2022

Resensi Buku: The Miraculous Journey of Edward Tulane oleh Kate DiCamillo


Once there lived a china rabbit named Edward Tulane. The rabbit couldn't move or speak, but he could watch and listen, and he was very pleased with himself and his owner and his house. And then, one day, he was lost.

---------------------------------------------------------------------

Judul: The Miraculous Journey of Edward Tulane
Penulis: Kate DiCamillo
Bahasa: Inggris
Penerbit: Candlewick Press
Ilustrator: Bagram Ibatoulline
Tebal: 210 halaman
                                            

Halo, kembali lagi membahas tentang buku. Kali ini yang mau diresensi adalah buku berbahasa Inggris. Sebenarnya ada yang versi bahasa Indonesia, namun kebetulan yang aku baca yang versi bahasa Inggris.

Awal mula aku membaca buku ini karena penasaran. Suatu hari aku nemu tulisan di Quora yang merekomendasikan buku ini sebagai buku yang bagus. Ketika aku baca garis besar ceritanya, aku langsung tertarik. Jadilah ketika ada kesempatan beli buku di Periplus, aku membelinya di situ.

Sama seperti resensi buku sebelumnya, Tuck Everlasting, buku ini juga buku anak-anak. Tampaknya memang genre ini jadi favoritku ya. Eits, tapi bukan berarti aku orangnya kekanak-kanakan, ya. Aku cuma suka cerita yang sederhana, tanpa memakai bahasa yang nyastra dan mendayu-dayu, tapi tetap punya pesan yang bagus. 

Itu kenapa aku tidak suka puisi, karena aku tidak suka gaya bahasanya, hehe. Dari dulu aku tak pernah suka puisi, baik membaca atau menulis. Ini hanya preferensi pribadi aja, ya. Karena banyak orang yang merelasikan orang yang suka cerita fiksi juga suka puisi.

Aku coba menulis resensi yang dibagi dalam beberapa bagian di bawah ini.

Cerita

Buku ini bercerita tentang boneka kelinci porselen yang bagus, dimiliki oleh gadis kecil yang menyayanginya, namun boneka yang bernama Edward itu tidak punya perasaan serupa. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.

Seperti yang diketahui dari sinopsis, suatu hari Edward hilang. Ia terpisah dari pemiliknya. Dari sinilah petualangan hidup Edward dimulai. Ia berpindah-pindah pemilik dalam waktu lama. Ia akhirnya belajar mencintai dan juga belajar tentang kehilangan.

Layaknya manusia yang mempunyai kesalahan, perubahan sifat Edward juga butuh proses sampai akhirnya ia menjadi kelinci yang bisa mencintai. 

Bahasa

Seperti yang aku sukai dari buku anak-anak, buku ini pakai bahasa yang sederhana. Cocok dibaca anak-anak. Tapi mungkin jika dibaca anak-anak, mereka membacanya sambil lalu kali, ya. Pokoknya paham ceritanya saja. 

Padahal kalau dibaca orang dewasa, dan direnungkan baik-baik, kata-kata yang dirangkai penulis mengandung pesan yang relevan bagi orang dewasa juga. 

Dari segi tata bahasa, ini mungkin kali pertama aku membaca buku berbahasa Inggris yang tidak terpaku pada tata bahasa resmi. Aku tidak tahu seberapa familiar hal seperti ini di literatur berbahasa Inggris, tapi seingatku ini pertama kalinya aku menjumpai yang seperti ini. 

Tapi ini mungkin saja terjadi sih, sebab yang seperti ini terletak di dialog-dialognya. Dialog kan tidak harus pakai bahasa baku.

"Oh, Lawrence, you brung me a rabbit!"
atau
"...He says she don't need nothing because she ain't gonna live. But he don't know."

Coba bagian mana yang janggal?

Visual 

Kalau sudah menerbitkan buku, apalagi penerbit mayor, memang harus ya untuk benar-benar memerhatikan visual. Mulai dari sampul sampai jenis huruf, jarak antar huruf, sampai tata letak.

Nah, untuk buku ini sangat memenuhi semuanya. Apalagi jika untuk buku anak-anak seperti ini, harus dipilih huruf yang menarik dan tidak bikin sakit mata serta jarak antar huruf yang tidak rapat. Kertasnya juga bagus dan tebal. 

Lalu, jika dibandingkan dengan buku polos tanpa ilustrasi, kebanyakan orang bakal pilih mana? Kukira buku dengan ilustrasi lebih diminati, apalagi buku untuk anak-anak. Ilustrasi pula mendukung bagaimana cerita itu berjalan. 

Ketika membaca buku, pasti pikiran kita dengan sendirinya berimajinasi bagaimana seandainya cerita itu benar terjadi. Bagaimana rupa tokohnya, bagaimana suasananya, bagaimana penampakan rumahnya, dan lain-lain.

Sejauh aku baca buku yang ada ilustrasinya, tak ada satu ilustrasi pun yang gagal membawaku berimajinasi. Bagram Ibatoulline sukses memberikan ilustrasi-ilustrasi yang top punya, bahkan bisa membuatku tersentuh.

Beberapa ilustrasi dari buku ini

Tokoh dan penokohan

Cerita ini berpusat pada Edward dan selalu diceritakan dari sudut pandang Edward (sudut pandang orang ketiga). Karena itulah penokohan Edward yang terasa paling kuat. 

Kalau ditanya siapa karakter favoritku? Aku tak punya. 

Tapi tokoh Pellegrina cukup misterius bagiku. Pellegrina adalah nenek Abilene, pemilik Edward yang diceritakan di awal buku. Dialah yang memberikan Edward pada Abilene sebagai hadiah ulang tahun. 

Nah, tampaknya Pellegrina tahu sifat Edward yang tak punya cinta pada siapa pun itu. Ia seperti tahu bahwa Edward adalah kelinci yang tinggi hati. 

Suatu hari Pellegrina bercerita pada Abilene sebelum tidur tentang seorang putri yang dikutuk jadi babi hutan karena tidak mencintai siapa pun. Dia menceritakannya seakan menyindir Edward. 

At this point in her story, Pellegrina stopped and looked right at Edward. She stared deep into his painted-on eyes, and again, Edward felt a shiver go through him.

Pellegrina took Edward from Abilene. She put him in his bed and pulled the sheet up to his whiskers. She leaned close to him. She whispered, "You disappoint me."

Dan di bagian lain buku, ketika Edward sedang dengan pemiliknya yang lain, ia melihat sesosok wanita tua di suatu tempat. Edward menganggap orang itu adalah Pellegrina, karena tatapan matanya yang dalam, dan anggukan kepalanya. Itu kenapa sosok Pellegrina misterius bagiku.

Namun semua yang muncul di cerita ini punya kesan sendiri-sendiri, terutama yang tidak muncul sambil lalu, seperti para pemilik Edward. Mereka punya latar belakang sendiri-sendiri yang menjadikan kisah Edward bersama mereka unik dan berkesan.

Pesan moral

Sering kita temui, di mana orang yang mengalami kesusahan, jika dipikir-pikir, mungkin saja di masa lalu ia melakukan kesalahan. Sering kita ini butuh 'ditegur' oleh Tuhan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu. Dengan begitu kita jadi tersadar dan akhirnya memperbaiki hal-hal yang harus diperbaiki. 

Dalam hal ini, tentu saja pada Edward. Ia yang awalnya tak peduli pada orang lain, sejak hilang dan terpisah dari Abilene yang mencintainya, jadi tahu apa itu cinta. Di saat ia berada dalam situasi susah, orang-orang tetap memberinya cinta seperti Abilene. 

Inilah yang sering kita lupakan. We tend to take many things for granted. Banyak hal-hal yang terlihat sepele hingga kita lupa untuk bersyukur. Ketika mengalami kehilangan, baru kita tersadar.

Relasi dengan dunia nyata

Seiring aku membaca buku ini, aku merasa buku ini sangat relate dengan dunia nyata. Betapa banyak peristiwa dalam hidup manusia yang serupa ini. Banyak hal berharga yang begitu saja terlewat dalam hidup yang belum sempat kita apresiasi. 

Sebut saja waktu. Menyia-nyiakan waktu akan terasa menyakitkan ketika kita sudah berada di masa depan dan merasa kita harusnya lebih bisa memanfaatkan waktu dengan baik. 

Begitu juga hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Kita akan merasa kehilangan ketika orang tersebut sudah tidak ada. 

Begitu juga kesehatan. Bahkan napas kehidupan yang masih kita punya sekarang. Ketika manusia sudah mati, dari kacamataku sebagai orang beragama, mungkin saja ada saat-saat ia menyesal mengapa ketika masih hidup di dunia tidak melakukan ini-itu.

Kesan

Buku ini salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Aku bersyukur pernah menemukan tulisan yang merekomendasikan buku ini. Buat yang merekomendasikan, terima kasih banyak, ya! Buku ini sukses meninggalkan kesan besar di hatiku. 


Jadi, apa kamu sudah pernah membaca buku ini? Bagaimana kesan kamu? Atau belum pernah, tapi berniat membaca?

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Rabu, 28 April 2021

Membuat Paspor Elektronik di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat

Sebenarnya sudah dari beberapa tahun yang lalu ingin bikin paspor, namun baru kali ini akhirnya terlaksana. Nah, posisinya aku sedang merantau di Jakarta, dan tidak tahu kapan akan pulang, sementara sudah ingin bikin paspor secepatnya. Akhirnya minta kirimin KK, akta kelahiran, dan ijazah asli dari rumah. Oh ya, ini pengalaman beberapa bulan lalu, tepatnya akhir tahun 2020.

Berdasarkan info, dokumen yang dibutuhkan adalah:

1. KK. Asli dan fotokopi.

2. E-KTP. Asli dan fotokopi. Pastikan kertas fotokopinya tidak dipotong, jadi biarkan satu kertas penuh.

3. Asli dan fotokopi salah satu dari akta kelahiran/ijazah/buku nikah. Aku memilih akta kelahiran.

Langkah pertama yaitu mendaftar antrian online, bisa lewat website antrian.imigrasi.go.id (sayangnya sudah cukup lama tidak bisa diakses) atau aplikasi Layanan Paspor Online yang bisa diunduh di Play Store. Untuk langkah-langkahnya bisa diikuti sendiri, atau jika ingin tahu tutorialnya, sudah banyak yang membahasnya di internet.

Nah, yang mau aku tekankan adalah proses pengajuan paspornya. Saat itu aku dapat antrian jam 11 pagi. Agak buru-buru sebenarnya karena harus pakai make up hihihi. Namanya bukan pro, maka make up-nya cukup menyita waktu. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan sehari sebelumnya tidak dimakan pagi itu, hiks. Habisnya takut telat. Belum tahu tempatnya juga.

Dengan mengandalkan Google Maps, sayangnya ketika di lapangan ternyata rute yang ditampilkan kurang tepat. Duh, akhirnya cari jalan lain, deh. Mana jamnya sudah cukup mepet, dan belum sarapan juga, huhuhu. Namun syukurnya aku bisa datang tepat waktu di menit-menit terakhir menuju jam 11 hahaha.

Sesampainya di sana, karena lagi musim corona, tentunya dicek suhu tubuh. Sudah disediakan pula tempat untuk cuci tangan beserta sabunnya. Ketika masuk ruangan, akan disambut oleh kuris-kursi berjejeran dengan meja petugas di depannya. Di sisi kanan ada bermacam-macam map dan kertas, ya ga jauh beda lah dengan bank. Jika bingung, bisa bertanya pada petugas yang berjaga harus mengambil kertas dan map yang mana, karena berbeda antara mengajukan paspor baru (paspor biasa atau elektronik) dan mengajukan penggantian paspor (yang masa berlakunya habis).

Setelah mengisi formulir, menuju ke arah resepsionis. Oh ya, kalau bingung dalam mengisi formulir juga bisa tanya-tanya tentunya. Aku waktu itu bingung karena banyak dan detail sekali kolom-kolomnya. Aku menutuskan untuk nggak mengisi semuanya (hahaha), dan ternyata petugasnya juga tidak meminta aku untuk mengisi semuanya. Oh ya, di situ tersedia pulpen, tapi lebih baik kalau bawa sendiri, dikarenakan sedang musim corona.

Di resepsionis, petugas akan mengecek formulir dan dokumen-dokumen persyaratan (asli dan fotokopi) dan menanyakan kode antrian online yang sudah didaftarkan sebelumnya. Setelah beres, petugas akan mencetak nomor antrian dan ditempel di depan map. Kita diarahkan untuk menuju ke lantai dua. 

Nomor antrian
 

Di lantai dua ruangannya lebih luas. Masih ada lantai lagi di atasnya tapi aku kurang tahu apa fungsinya. Aku juga nggak berani lihat-lihat, takut petugas keamanannya curiga, ahaha. Waktu itu sepi sekali, hanya ada dua-tiga biji pengunjung termasuk aku. Aku juga teringat waktu daftar antrian online gampang dapat jadwalnya, masih banyak slot kosong. Beda dengan cerita-cerita yang kubaca di internet tentang susahnya dapat jadwal antrian. Aku berpikir mungkin karena isi musim corona, ditambah lagi akhir tahun 2020. 

Tak lama menunggu, begitu seorang wanita keluar ruangan, namaku dipanggil. Tak hanya dipanggil, tapi tercetak juga di papan pengumuman yang bisa munculin tulisan itu loh, apa ya namanya, haha. Jadi nggak perlu takut nggak tahu kalau nama sudah dipanggil. Agak deg-dengan juga sih, karena judulnya 'wawancara' haha.

Selain itu, yang bikin agak deg-degan adalah sebelumnya aku baca pengumuman ini di story instagram Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Yang bikin kepikiran adalah poin kelima, secara KTP-ku bukan KTP DKI. Fakta ini baru kuketahui semalam sebelumnya, yang mana mungkin dong aku menyiapkan surat domisili/keterangan kerja dalam sekejap? Di samping itu aku juga malas mengurusnya hahaha.


Kupikir kan nggak usah begitu, bikin paspor bisa di mana saja dengan syarat yang sama. Aku pernah memperpanjang SIM di Jakarta dan tidak dimintai macam-macam sama petugasnya. Syaratnya sama saja dengan pemegang KTP DKI. Alhasil, aku menerapkan jurus positive thinking, optimis, dan membaca shalawat selama perjalanan ke kanim sampai dipanggil wawancara hahaha. Ditambah berdoa agar dimudahkan prosesnya sama Allah, dan akhirnya terkabul! Alhamdulillah...

Jadi ceritanya si mas tanya, aku kerja di mana dan asli mana. Lalu merembet ke lulusan universitas mana, jurusan apa, sebelum ke Jakarta kerja di mana, jadi apa, seperti apa pekerjaanku sekarang. Dia tahu kalau aku tidak menyiapkan surat keterangan kerja/domisili, jadi aku inisiatif ngeluarin ID card karyawan. Hahaha, sebenarnya ini sih siasat aku aja. Tapi ternyata itu nggak cukup. Ujung-ujungnya beliau minta aku nunjukin ijazah. Eh, permisi, bukannya akta kelahiran aja sudah cukup? Tanyaku dalam hati. Tapi katanya ini buat mempertegas aja, biar jelas keberadaanku di DKI Jakarta ini. Aku memang minta dikirimkan ijazah dari rumah, tapi jelas saat itu nggak aku bawa, dong. Aku kira akta kelahiran saja cukup. Lalu dia tanya, aku ada soft copy-nya nggak? Biar bisa di-print di bawah. Aku cari-cari soft copy-nya di hape tidak kunjung nemu, akhirnya ia tanya apa aku bisa nunjukin rekam jejak akademisku di internet? Akhirnya aku tunjukin laman profilku di website universitas. Katanya boleh di-print yang itu saja. Beliau juga bilang kalau ingin mempermudah urusanku, sebab perantauan yang bikin paspor di situ banyak, jadi beliau hanya ingin membantu, daripada aku bolak-balik cuma buat ngurus surat keterangan kerja. Huhu, aku diam-diam terharu. Jangan-jangan masnya juga anak perantauan.

Tapi akhirnya nemu tuh ijazah dalam bentuk pdf di hape, jadinya itu saja yang ku print. Kembali lagi ke lantai dua, alhamdulillah setelah itu tinggal foto.

Nah, pertanyaan wawancaranya ada lagi nih selain tadi? Ada, seperti ditanyain pertanyaan dasar yang sudah banyak diinformasikan di artikel lain di internet. Rencana mau pergi ke mana, tujuannya apa, semacam itu. Nggak ditanyain macam-macam, kok. Nggak ditanyain pula apa mau pergi di masa corona ini? Punya uang berapa di tabungan? Kapan mau pergi ke luar negeri?

Aku jawabnya ingin ke Jepang (Aamiin!!) untuk liburan. Optimis aja! Apalagi salah satu keuntungan punya paspor elektronik adalah dapat visa gratis ke Jepang. Kupikir info ini sudah banyak yang tahu, ya, jadi aku nggak akan bahas ini.

Setelah itu petugas memberi tanda terima dan tahap pendaftaran selesai. Nah, paspor baru bisa diproses setelah kita melakukan pembayaran. Bagaimana cara membayarnya? Bisa dengan berbagai cara. Kalau ingin di kantor imigrasinya langsung, bisa melalui kantor pos yang ada pas di samping tempat fotokopi dan print di bawah. Karena aku ga bawa uang cash, maka aku memilih untuk bayar lewat ATM bank. Lebih lengkapnya caranya bisa disimak lewat pengumuman di depan ruang wawancara.

 

Untuk cara pembayarannya bisa diakses lewat WA SIGAP, sudah jelas informasinya. Kalau bayar lewat ATM, kita tinggal masukin kode bayar yang tertera di tanda terima, nanti otomatis layar ATM memunculkan nama kita dan jumlah tagihan. Tinggal bayar dan jangan lupa struk bukti pembayaran disimpan untuk persyaratan mengambil paspor.

Di tanda terima sih bisa paspor jadi empat hari setelah pembayaran diterima, tapi karena aku mepet libur tahun baru, maka bisa saja mundur. Untuk lebih jelasnya, bisa dicek melalui WA SIGAP di gambar sebelumnya untuk tahu paspornya sudah jadi atau belum.

Satu tahun kemudian (ceilah, maksudnya awal bulan depan, yaitu Januari 2021) diinfokan lewat WA bahwa paspor sudah jadi. Dari aku apply hingga datang mengambil paspor ada waktu satu pekan kira-kira. Untuk mengambil paspor, bawa tanda terima, bukti pembayaran, dan e-KTP. Sesampainya di lantai satu, katakan pada resepsionis kalau ingin mengambil paspor. Dokumen akan dicek dan setelah itu diberi antrian dan tunggu di lantai dua, deh. Loket pengambilan persis di sebelah ruang wawancara.

 
Ada tempat charge ponsel juga

Ketika nomor antrian dipanggil, tinggal maju, serahin berkas, dan tak lama kemudian paspor sudah di tangan! Tanda tangan sebentar, dan wah, rasanya senang sekali akhirnya bisa punya paspor pertama kali. Maklum lah, selama ini jangankan ke luar negeri, naik pesawat saja belum pernah ehehe.

Di sisi lain ruangan ada coffee corner. Tersedia kopi dan teh gratis. Di kunjungan sebelumnya bohong kalau ngaku nggak lihat ada ini. Cuma karena malu-malu (ceilah malu) maka waktu itu nggak mampir. Tapi di hari pengambilan, karena nggak tahu kapan ke sini lagi, maka sayang kalau nggak mampir.

Di tempat itu cuma ada aku. Aku pilih kopi, yah walaupun krimernya habis, tak apalah. Tempatnya enak, dan aku sangat mengapresiasi layanan yang bagus di sini. Mulai tersedia coffee corner, air mineral gelas dingin, ruang menyusui, tempat charge hp, musala, dan lainnya.

 

Foto dari meja coffee corner. Di seberang adalah ruang wawancara.
 

  

Rasanya ingin menari saking senengnya dapat buku hijau kecil yang mirip buku nikah ini hahaha. Sampulnya tebal karena paspor elektronik (ada chip-nya) dan di dalamnya kertasnya juga berwarna-warni dan menampilkan gambar-gambar fauna khas Indonesia.

Halaman depan

Isinya

Halaman belakang

Satu hal yang cukup aku sayangkan selama dua hari kunjunganku ke Kanim Jakpus. Di hari pertama, karena tidak kenal dengan lingkungannya, aku kena parkir liar. Jadi ketika sampai di depan gedung, aku tidak tahu harus parkir di mana. Kebetulan di depan ada bapak-bapak, kupikir tukang parkir, yang akhirnya aku tanya di mana parkirnya, secara sedikit sekali motor yang aku lihat di situ. Kulihat di sekitar pun tak ada rambu yang menunjukkan di mana letak parkir motor. 

Bapak itu bilang kalau bisa parkir pas di depan gedung. Yah, berarti memang benar dia yang jaga 'parkiran'. Sebenarnya rada mengganjal sih, cuma karena lagi buru-buru, ya sudah parkir saja di situ. Dan firasatku makin kuat ketika pas pulang, dia minta bayaran. Aku sih nggak ngeh ya, kupikir gratis, tapi pas aku mulai tancap gas, dia bilang kalau harus bayar -_- 

Pulangnya aku DM Kanim Jakpus lewat Instagram, dan terungkap bahwa memang itu parkir tidak resmi. Aku sudah bilang sih agar ditindaklanjuti soal parkir liar itu. Aku diberi info kalau untuk parkir, mereka pakai parkir terpadu. Awalnya agak kepo, apa sih maksudnya parkir terpadu?

Ternyata itu lahan parkir khusus untuk semua pengunjung kompleks itu. Di daerah situ kan banyak kantor layanan semacam itu, dan semua pengunjung dipusatkan untuk parkir di situ. Dan konyolnya, di hari pertama pun aku melewati itu. Cuma kan memang aku nggak ngeh, kupikir itu parkiran khusus untuk pengunjung apa gitu.

Seingatku cuma bayar 2000, beda dengan parkir liar yang ditagih 3.000. Huft. Mungkin itu sih kekurangan selama aku mengurus paspor di sana. Tapi overall, semuanya bagus. Terima kasih, Kanim Jakpus.

Continue Reading
Tidak ada komentar
Share:

Kamis, 04 Maret 2021

Pengalaman Tes TOEFL ITP di IES Foundation Jakarta

Bulan Desember 2020 kemarin pertama kalinya aku mencoba tes TOEFL 'beneran'. Sebelumnya sudah beberapa kali ikut tes TOEFL-alike, dan karena kali ini aku ingin ambil tes TOEFL 'beneran' aku memberanikan diri untuk membayar Rp 550.000 (harga bisa bervariasi tergantung tempat tes, namun kisaran harganya tidak jauh dari ini). Cukup banyak juga, tapi karena sudah bertekad, dan Alhamdulillah diberi kelapangan rezeki, maka aku pun memberanikan diri.

Cukup memakan waktu juga untuk mencari informasi mau tes di mana. Sebenarnya ada yang dekat dari tempat tinggal, namun karena corona, mereka meniadakan dulu tes. Ngomong-ngomong corona, pandemi ini juga membawa gaya baru dalam dunia tes. Lembaga-lembaga banyak yang mengadakan tes TOEFL ITP online, bahkan kayanya lebih banyak yang mengadakan tes online daripada offline. Tapi untuk meminimalisir risiko gangguan, maka aku memilih tes offline saja. Setelah mencari-cari, akhirnya pilihanku jatuh pada IES Foundation Jakarta. Tidak terlalu jauh, bisa mengikuti tes offline, dan lokasinya juga strategis. 

Aku mendaftar online dulu lewat sini. Dari situ juga bisa didapatkan informasi apa itu TOEFL ITP, lokasi tes, dan informasi lain yang berhubungan. Tinggal isi saja formulir di situ (jika memilih identitas KTP, untuk masa berlakunya bisa diisi 'seumur hidup') lalu submit deh. Nanti akan diberitahu langkah selanjutnya apa, namun bisa kukasih bocoran di sini. Jadi nanti kalian akan diminta untuk transfer biaya pendaftaran dalam jangka waktu tertentu. Setelah itu, kirim bukti transfer dan foto identitas ke email mereka. Pengalamanku, keesokan harinya sudah ada email balasan dari IES mengabarkan kalau aku sudah terdaftar jadi peserta. Konfirmasi nomor peserta akan dikirimkan 3-2 hari sebelum tes. Namun waktu itu, empat hari sebelum tes aku sudah dikirimi nomor peserta. 

Jika membaca pengalaman orang-orang mengambil tes TOEFL/IELTS, mereka daftar dari jauuuuh-jauh hari dan belajar dengan sungguh-sungguh kalau mau dapat nilai bagus. Sementara aku sudah ingin cepat-cepat tes (wkwkwk) dan tidak ditarget harus dapat skor berapa, maka aku tidak masalah dengan waktu tes yang terhitung mepet. Walau begitu aku ingin menyisihkan waktu untuk belajar, tapi seperti tidak menemukan waktu yang tepat sampai menjelang hari H. Jadi ya sudahlah, nekat saja wkwkw.

Beberapa hari menjelang tes, kalian akan mendapat email kembali. Selain nomor peserta, email itu juga berisi tentang hal-hal yang perlu dibawa dan diperhatikan ketika tes.   


 STC (Senayan Trade Center) 3rd Floor Unit 103

   Jl. Asia Afrika, Senayan, Jakarta 10270

 

Layaknya akan pergi ke tempat baru, aku mengecek berkali-kali lokasinya dari awal daftar. Ini untuk memasatikan aku nggak bakalan kesulitan mencari lokasinya nanti, dan untuk memperkirakan aku harus berangkat pukul berapa. Oh ya, di dalam email juga ditulis untuk membawa dua buah pensil 2B dan penghapus, namun di kehidupan nyata, panitia juga menyediakan pensil, penghapus dan rautan di tempat. Tapi jika ingin lebih praktis, membawa punya sendiri akan lebih nyaman, apalagi musim corona seperti ini.

Ketika sampai di tempat, ternyata tempatnya seperti kios perkantoran kecil bentuk segi empat. Walau tempatnya di dalam mall (yang sepi) namun ternyata juga ada tempat untuk perkantoran kecil. Pastikan sebelum tes kalian sudah salat, sudah makan, sudah buang air, dan menyiapakan alat-alat penunjang tes. Untuk orang yang lumayan hobi buang air kecil seperti aku, ini cukup challenging hahaha. Aku bahkan sudah BAK dua kali sebelum tes dimulai. 


Lokasinya cuy, cuma ada satu ruangan, ya ruangan tes itu.

Bagi kalian yang sudah pernah ikut tes TOEFL maupun tes TOEFL-alike pasti sudah dapat gambaran bagaimana tes akan berjalan. Sama persis dengan pengalamanku sebelumnya. Tipe soal-soalnya pun sama. Awal tes berjalan, okelah, masih gampang ini. Namun semakin kompleks soalnya, semakin challenging juga. Kalau sudah seperti ini hati-hati saja, sebab sekali konsentrasi pecah, maka akan rentan dapat nilai jeblok. Nah, masalahku bukan hanya karena soal yang semakin sulit, tapi juga karena mulai kebelet BAK wkwkwk. Padahal tadi sudah dua kali sebelum tes. Ini pasti gara-gara minum sebelum tes. Yah, habis mau bagaimana lagi, soalnya takut kalau haus di tengah tes, pasti bakalan ribet kalau mau minum dan harus menjaga konsentrasi juga. Di tengah kekalutan seperti itu, aku berusaha mengembalikan fokus dan tak terpangaruh rasa ingin BAK. Dan ketika tes itu juga aku rajin bersholawat, berharap dapat pencerahan dan nasib baik hehehe. Tapi memang shalawat itu membawa ketentraman dalam hati. Walaupun rada-rada kesulitan, tapi aku nggak begitu panik.

Rasanya sama seperti tes-tes sebelumnya. Sempat terpikir kalau aku bakalan dapat nilai yang ga juh beda dari dulu (547), tapi buru-buru kutepis pikiran itu. Biar bagaimanapun tes ini belum selesai, dan hasil tes tentu saja belum keluar, jadi aku harus tetap berpikiran baik. Targetku paling tidak dapat skor 550, dan itu harusnya tidak sulit.

Rasanya sudah ingin keluar saja ke toilet, tapi ketika tes usai, memakan waktu yang lebih karena situasi corona. Panitia memberikan bagaimana hasil tes akan keluar, namun karena corona dan menjelang akhir tahun, maka sertifikat akan dikirim ke alamat masing-masing, yang mana tentu harus mengeluarkan uang esktra wkwkwk. Untuk pengiriman ke Jabodetabek dipukul rata Rp 25.000 sementara di luar itu akan menyesuaikan. Oh ya, ada juga lho peserta yang berasal dari Lampung. Ketika kutanya kenapa mereka tes TOEFL jauh-jauh ke Jakarta, kalau tidak lupa, itu karena lembaga di tempat asal mereka sedang off dulu karena corona. Wah, totalitas banget, ya. Pasti nyesek tuh kalau tidak dapat skor yang tidak diharapkan. 

Karena bertepatan dengan akhir tahun, maka hasil tes akan dikirimkan sekitar awal Januari. Selama masa menunggu itu, aku berusaha berpikir positif dan menerapkan law of attraction atau hukum tarik menarik. Bagi yang belum tahu, intinya jika kita memikirkan sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi pada kita, baik positif maupun negatif. Salah satu teknik dalam LoA adalah scripting, jadi aku menulis di selembar kertas. Tentu saja aku menulis tentang rasa syukur sudah mendapat skor di atas 550 (aku tidak mematok tinggi, 550 lebih sedikit tidak apa-apa). Walau tentu ini belum terjadi, tapi beginilah caranya jika menerapkan teknik scripting. Ngomong-ngomong aku akan menulis tentang LoA ini kapan-kapan.

Ternyata sertifikat tiba lebih cepat dari perkiraan. Sudah di awal Januari, namun lebih cepat dari perkiraan. Saat itu baru saja tanggal satu, tentu masih dalam suasana tanggal merah, dong. Makanya aku terkejut ketika mendapat telepon dari kurir yang sudah ada di depan rumah.

Dengan antusias aku kembali ke kamar, membuka amplop cokelat besar itu. Kurobek segelnya, kutarik kertas di dalamnya. Rasanya seperti menarik keluar hasil penerimaan beasiswa studi di luar negeri wkwkwk. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Bukan hanya dapat skor 550 lebih sedikit, tapi justru dapat skor 550 lebih banyak! Langsung deh tuh melonjak kegirangan. Aku pikir kalau mau berdoa dan berpikir positif, maka hasil positif pula yang akan kudapat. Apalagi memang terbukti shalawat membawa manfaat.



Untuk tema sertifikatnya sendiri ada tiga: gold, silver, dan bronze. Aku tidak ingat range skornya berapa, tapi yang jelas gold adalah kriteria skor paling tinggi. Yang paling rendah bukanlah bronze, tapi yang tidak dapat sertifikat. Lho, ada ya? Ada. Kalau tidak salah kalau dapat skor dibawah 400 maka tidak dapat sertifikat, hanya report-nya saja. 

Sebenarnya satu yang disesalkan. Dengan harga segitu, kukira bakal dapat setifikat dengan kertas tebal macam ijazah begitu, tapi ternyata tidak! Kertasnya tipis sekali, bahkan lebih tipis dari kertas polos A4. Jika diperhatikan, hasil scan di atas kelihatan leceknya. 


 

Saking senengnya, itu amplop cokelat aku taruh samping tempat tidur selama berhari-hari. Baru setelah puas memandangi, amplopnya kusimpan di lemari. Hihihi.

Apa kalian punya cerita yang ingin dibagi? Feel free to cooment, ya!





Continue Reading
Tidak ada komentar
Share: